Subscribe Twitter Facebook

Minggu, 06 Mei 2012

Sejarah Kesenian Tari Jaipong

Tari Jaipong atau Jaipongan adalah seni tari yang tercipta dari kreativitas seorang seniman Bandung, Gugum Gumbira. Tokoh ini terinspirasi oleh kesenian rakyat, salah satunya adalah Ketuk Tilu. Hal inilah yang membuatnya mengenal dan mengetahui perbendaharaan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu.

Beberapa gerak seperti bukaan, pencungan, nabakeun, dan ragam gerak mincid dari beberapa kesenian tersebut, cukup menginspisari untuk mengembangkan tari atau kesenian yang sekarang poluler dengan nama Jaipongan.
Sejarah

Sebelum Jaipongan ini muncul, terdapat beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Contohnya, tari pergaulan adalah pengaruh dari Ball Room yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari ini identik dengan ronggeng dan pamogoran.

Dalam tari pergaulan, ronggeng tidak lagi digunakan untuk kegiatan upacara, tetapi berfungsi sebagai hiburan dan acara pergaulan. Ronggeng dalam seni pertunjukan dianggap mempunyai daya tarik sehingga mengundang simpati kaum pamogoran, seperti pada tari Ketuk Tilu. Tarian ini sangat populer di kalangan masyarakat Sunda, tepatnya pada 1916.

Tari Ketuk Tilu adalah seni pertunjukan rakyat yang hanya didukung oleh alat-alat sederhana, seperti waditra yang mencakup rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Selain itu, gerak tariannya tidak mempunyai pola gerak yang baku dan kostum penarinya juga sederhana (mencerminkan kerakyatan).

Bersamaan dengan pudarnya tari Ketuk Tilu, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya kepada seni pertunjukan Kliningan. Di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) lebih dikenal dengan nama Kliningan Bajidoran yang peristiwa pertunjukan dan pola tariannya hampir sama dengan kesenian sebelumnya, yaitu Ketuk Tilu.

Di Karawang, beberapa pola gerak pertunjukan bajidoran diambil dari tari Topeng Banjet yang cukup digemari di daerah itu. Tarian ini juga masih memperlihatkan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) jika dilihat dari unsur koreografis. Gerakannya masih mengandung unsur bukaan, pencungan, nibakeun, dan lain-lain. Gerakan-gerakan inilah yang pada akhirnya menjadi cikal bakal penciptaan tari Jaipongan.

Tari Jaipongan yang diciptakan oleh Gugum Gumbira ini awalnya diberi nama Ketuk Tilu karena tari ini adalah hasil pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertamanya ini masih begitu kental dengan warna ibing Ketuk Tilu (segi koreografi dan iringannya). Kemudian, tari ini menjadi terkenal dengan sebutan Jaipongan.
Perkembangan

Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong adalah karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal luas masyarakat. Kedua jenis tari ini termasuk dalam tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian inilah lahir penari Jaipong yang hebat, seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi.

Keberadaan Jaipongan memberi pengaruh yang besar terhadap para seniman tari untuk lebih giat lagi menggali jenis tarian takyat lainnya. Selain itu, dampak lainnya adalah banyaknya para pencinta seni tari yang menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan.

Pada 1980-1990-an, Gugum Gumbira menciptakan beberapa tarian baru, seperti Toka-toka, Sonteng, Setra Sari, Pencung, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Tarian-tarian ini melahirkan penari-penari Jaipong terkenal, seperti Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Jaipong Sekarang

Tari Jaipong merupakan salah satu identitas kesenian Jawa Barat. Tari ini seringkali dipentaskan saat acara-acara penting, seperti penyambutan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat. Jaipongan juga sering diikutsertakan dalam misi-misi kesenian ke luar negeri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar